Oleh: Shierly P. V.
Nainggolan, SP. / POPT Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Banjar
Agensia hayati merupakan organisme yang digunakan untuk mengendalikan serangan
hama dan penyakit pada tanaman. Agensia hayati juga dikenal sebagai pengendali
hayati atau biological control agens. Beberapa agensia hayati berupa
bakteri, virus dan jamur antagonis diketahui telah mampu menekan populasi
patogen di dalam tanah, berperan positif pada daerah perakaran tanaman. Pada
lingkungan tanah, posisi agensia hayati sebagai penyeimbang antara tanaman dan
patogen.
Nucleopolyhedrovirus (NPV) adalah virus dari keluarga Baculoviridae dan
patogen serangga yang efektif sebagai agens pengendalian hama serangga. Virus ini
secara khusus menginfeksi serangga, terutama larva (ulat) dari kelompok
kupu-kupu dan ngengat (ordo Lepidoptera). Selain itun, NPV memiliki
spesifisitas tinggi karena hanya menginfeksi inang tertentu, biasanya ulat dari
famili Noctuidae atau Plutellidae. Virus ini bekerja dengan cara menginfeksi
sistem pencernaan sehingga menyebabkan kematian dalam beberapa hari. Oleh
karena itu, efektif sebagai insektisida hayati yang ramah lingkungan dan aman
bagi manusia, hewan, serta serangga bermanfaat. Metode kerja NPV terbilang
cepat; yaitu dalam 4–7 hari dapat menurunkan populasi larva serangga target
lebih dari 90%. NPV juga telah teruji efektif mengendalikan ulat Hyposidra
talaca (Walker) dan disebut juga HytaNPV, dengan persentase penurunan
populasi hama 50–100% dalam waktu 7–11 hari. NPV memiliki beberapa keunggulan,
yaitu spesifik inang, tidak merusak lingkungan, dapat mengatasi masalah
resistensi hama terhadap insektisida dan kompatibel dengan komponen PHT lainnya.
NPV bekerja melalui mekanisme
infeksi yang spesifik pada ulat hama. Virus ini masuk ke tubuh ulat melalui
makanan yang terkontaminasi, selanjutnya menginfeksi sel-sel di saluran
pencernaan. Proses ini menyebabkan kerusakan internal yang berujung pada
kematian ulat dalam waktu 4-7 hari setelah aplikasi. Tahapan cara kerja NPV
untuk pengendalian ulat yaitu 1). ulat memakan daun atau tanaman yang telah
disemprot dengan larutan NPV, 2). partikel virus masuk ke saluran pencernaan
ulat dan melepaskan materi genetik, 3). virus bereplikasi di dalam sel-sel
ulat, menyebabkan infeksi sistemik, 4). ulat menjadi lemah, berhenti makan, dan
akhirnya mati, 5). ulat yang mati melepaskan virus baru ke lingkungan,
menginfeksi ulat lain. Mekanisme ini membuat NPV efektif untuk pengendalian
ulat secara berkelanjutan. Virus dapat menyebar di populasi hama yang
terinfeksi, sehingga hal ini mendukung pengelolaan hama terpadu yang lebih
efisien.
NPV efektif untuk mengendalikan
berbagai jenis hama ulat yang umum menyerang tanaman di Indonesia. Beberapa
ulat utama yang dapat dikendalikan yaitu 1). ulat grayak (Spodoptera
spp.): hama yang menyerang tanaman padi, jagung dan sayuran, dimana menyebabkan
kerusakan daun parah. 2). ulat buah (Helicoverpa armigera): hama pada tanaman
tomat, cabai dan kapas, dimana merusak buah dan bunga. 3). ulat daun kubis (Plutella
xylostella): hama yang menyerang tanaman kubis-kubisan sehingga dapat
mengurangi kualitas hasil panen. 4). ulat penggerek batang (Chilo spp.):
hama pada tanaman padi dan tebu, dimana menyebabkan kerusakan internal batang.
Selain itu, penting untuk diperhatikan dalam memilih strain NPV yang sesuai
dengan jenis ulat sasaran.
Penggunaan NPV untuk mengendalikan serangan ulat di lapangan berpotensi sebagai
pendukung pertanian berkelanjutan. Sebagai bagian dari pengendalian hayati, NPV
diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada insektisida kimia yang berisiko
terhadap kesehatan dan ekosistem. Dengan sifatnya yang spesifik, NPV hanya
menargetkan hama sasaran tanpa mengganggu organisme lain di lahan pertanian
DAFTAR PUSTAKA
Centra Biotech Indonesia. 2025. Panduan
Lengkap Nucleopolyhedrovirus (NPV): Solusi Hayati Pengendalian Ulat. Diakses
pada laman http://www.centrabiotechindonesia.com/id/blog/nucleopolyhedrovirus-npv-untuk-pengendalian-ulat
Laoh J. H. dan Puspita F. 2003. Kerentanan
larva Spodoptera litura F. terhadap Virus Nuklear polyhedrosis. Jurnal
Natur Indonesia. 5:145–151.