Oleh :
I Gede Sila Adnyana, S.P.
( POPT Ahli Pertama di Kecamatan Tejakula )
Budidaya Ubi Kayu merupakan salah satu kegiatan pertanian
penting yang banyak dikembangkan di berbagai daerah, terutama pada lahan tadah
hujan. Tanaman ini dikenal memiliki daya adaptasi yang cukup baik, namun tetap
rentan terhadap serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Berdasarkan
berbagai hasil penelitian, keberadaan hama dan penyakit dapat menurunkan
produktivitas secara signifikan apabila tidak dilakukan upaya pengendalian yang
tepat sejak awal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intensitas
serangan hama dan penyakit pada ubi kayu dipengaruhi oleh faktor lingkungan,
varietas, serta teknik budidaya yang diterapkan. Studi
yang dilakukan oleh Jayanti et al. (2022) mengungkapkan bahwa perbedaan
klon ubi kayu dapat memengaruhi tingkat serangan OPT di lapangan. Hal ini
menunjukkan bahwa selain faktor genetik tanaman, kondisi lingkungan dan
pengelolaan lahan juga berperan penting dalam menentukan tingkat serangan.
Budidaya
ubi kayu di lahan tadah hujan memiliki tantangan tersendiri, terutama karena
ketergantungan terhadap curah hujan dan kondisi lingkungan yang tidak selalu
stabil. Dalam kondisi tersebut, tanaman menjadi lebih rentan terhadap serangan
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Oleh karena itu, penerapan pengendalian
kultur teknis, khususnya sanitasi lahan, menjadi langkah penting yang harus
dilakukan petani sebagai upaya pencegahan dini terhadap serangan hama dan
penyakit.
Sanitasi
lingkungan dalam budidaya ubi kayu adalah kegiatan membersihkan lahan dari
sisa-sisa tanaman, gulma, serta bagian tanaman yang terserang penyakit. Sisa tanaman yang dibiarkan di lahan dapat menjadi
sumber inokulum penyakit dan tempat berkembangnya hama. Pada lahan tadah hujan,
kondisi lembap setelah hujan dapat mempercepat perkembangan patogen, sehingga
sanitasi menjadi semakin penting untuk memutus siklus hidup OPT.
Beberapa OPT utama pada tanaman ubi kayu yang dapat
ditekan melalui sanitasi antara lain hama tungau merah (Tetranychus sp.),
kutu putih (Phenacoccus manihoti), serta penyakit busuk batang dan
bercak daun yang disebabkan oleh jamur. Selain itu, hama tikus juga sering
menjadi masalah serius, terutama pada fase awal pertumbuhan hingga pembentukan
umbi. Tikus biasanya memanfaatkan tumpukan sisa tanaman atau gulma sebagai
tempat berlindung dan berkembang biak. Dengan melakukan pembersihan lahan
secara rutin, habitat tikus dapat dikurangi sehingga populasinya dapat ditekan.
Kegiatan sanitasi dapat dilakukan dengan cara membuang
dan memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, membersihkan gulma di sekitar
pertanaman, serta mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara lebih baik. Selain
itu, penggunaan bahan tanam yang sehat dan bebas penyakit juga merupakan bagian
dari upaya kultur teknis yang tidak kalah penting. Pada lahan tadah hujan,
pengelolaan drainase sederhana juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi genangan
yang dapat memicu perkembangan penyakit.
Penerapan sanitasi dalam budidaya ubi kayu di lahan
tadah hujan merupakan langkah sederhana namun sangat efektif dalam menekan
perkembangan hama dan penyakit. Dengan menjaga kebersihan lahan, mengurangi
sumber infeksi, serta menghilangkan tempat berkembangnya hama seperti tikus,
kondisi pertanaman akan lebih sehat dan pertumbuhan tanaman dapat berlangsung
optimal. Oleh karena itu, kesadaran dan kedisiplinan dalam melakukan sanitasi
perlu terus ditingkatkan agar hasil produksi ubi kayu tetap baik meskipun
berada pada kondisi lingkungan yang terbatas.
DAFTAR PUSTAKA
Jayanti,
Y. W., Efri, E., & Sudarsono, H. (2022). Pengaruh klon terhadap intensitas
hama dan penyakit penting pada tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Crantz.) di Lampung Tengah.
Jurnal Agrotek Tropika,
10(2), 195–202.
Sajar,
S., Setiawan, A., Siregar, M., & Hayati, D. (2023). Pengenalan dan
pengendalian hama dan penyakit tanaman ubi kayu. Jurnal Peduli Masyarakat, 6(4).
Sari, R. W., Swibawa,
I. G., Wibowo, L., & Utomo, S. D. (2017). Tingkat kerusakan
tanaman dan populasi tungau serta kutu putih pada 23 klon ubi kayu (Manihot esculenta Crantz).
Jurnal Agrotek Tropika, 7(3).