Oleh:
Pande Made Giopany, S.P.
POPT-Ahli Pertama di Kecamatan Kubutambahan
Penggunaan pestisida dalam budidaya tanaman merupakan salah
satu upaya yang biasa dilakukan petani untuk mengendalikan organisme pengganggu
tumbuhan (OPT), baik hama, penyakit maupun gulma. Penggunaan pestisida untuk
menekan OPT merupakan cara yang menurut petani paling efektif karena harga yang
cukup terjangkau, mudah diaplikasikan dan dapat digunakan dalam area yang luas.
Agar pengendalian berjalan efektif, penggunaan pestisida harus dilakukan sesuai
dengan prinsip 6 Tepat, yaitu tepat jenis, tepat sasaran, tepat waktu, tepat
mutu, tepat dosis/konsentrasi, dan tepat cara. Salah satu langkah penting yang
sering dilupakan dalam aplikasi pestisida adalah kalibrasi alat semprot/sprayer.
Kalibrasi memiliki peranan penting untuk menentukan jumlah larutan semprot yang
diaplikasikan pada suatu luasan lahan sehingga penggunaan pestisida menjadi
lebih efisien dan sesuai anjuran.
Kalibrasi adalah proses penyesuaian dan standarisasi
peralatan untuk memastikan memberikan jumlah pestisida sesuai dosis anjuran,
yang mencakup penyesuaian peralatan penyemprotan dengan pengukuran aliran dan
ukuran semburan larutan pestisida yang disemprotkan. Kalibrasi menjadi kunci
untuk menyeragamkan setiap perlakuan pestisida, terutama pestisida dengan
aplikasi menggunakan alat penyemprot (sprayer). Sprayer berfungsi untuk
memecah cairan atau larutan menjadi butiran-butiran dan mendistribusikannya
secara merata ke permukaan tanaman yang dilindungi.
Kalibrasi
alat semprot (sprayer) adalah kegiatan mengukur kemampuan alat semprot (sprayer)
dalam mengeluarkan cairan atau larutan pada luas lahan tertentu. Melalui
kalibrasi, petani dapat mengetahui berapa banyak air yang dibutuhkan untuk
menyemprot satu hektar lahan, sekaligus menentukan jumlah pestisida yang harus
dicampurkan ke dalam tangki semprot. Tanpa kalibrasi, aplikasi pestisida sering
dilakukan hanya berdasarkan perkiraan. Hal ini dapat menyebabkan dosis
pestisida menjadi terlalu rendah atau mungkin berlebihan. Jika dosis terlalu
rendah, pengendalian OPT menjadi kurang efektif sehingga hama atau penyakit
tetap berkembang. Sebaliknya, jika dosis terlalu tinggi dapat menyebabkan
peningkatan biaya produksi, menimbulkan keracunan pada tanaman, meninggalkan
residu berlebih dan mencemari lingkungan.
Kalibrasi
sprayer dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan mudah diterapkan
oleh petani di lapangan. Terdapat tiga faktor yang menentukan keberhasilan
kalibrasi, yaitu ukuran lubang nozzle (nozzle curah), tekanan dalam
tangki alat semprot, dan kecepatan berjalan (ke depan) aplikator. Ketiga faktor
tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu volume larutan
pestisida tertentu yang dapat dilepaskan melalui lubang nozzle pada
setiap waktu yang dikehendaki.
Kalibrasi sprayer dapat dilakukan dengan alat sederhana, yaitu sprayer yang biasa digunakan, air bersih, gelas ukur/botol ukur, ember, stopwatch/jam, meteran, dan ajir/penanda lain. Sebelum melakukan kalibrasi, perlu dipastikan kondisi alat semprot dalam keadaan baik. Tangki, selang, pompa dan nozzle perlu diperiksa agar tidak terdapat kebocoran atau sumbatan yang dapat mempengaruhi hasil semprotan.
Langkah-langkah Kalibrasi Sprayer
1.
Menentukan Luas Uji
Buat petak contoh untuk kalibrasi, umumnya digunakan 100 meter persegi, misal dengan panjang 10 meter x lebar 10 meter. Lahan diberi tanda agar mudah diketahui batas penyemprotan.
2.
Isi Sprayer dengan Air
Isi sprayer menggunakan air bersih sampai volume tertentu, misalnya 16 liter. Catat volume awal air dalam tangki
3.
Lakukan Penyemprotan
Penyemprotan dilakukan seperti kebiasaan sehari-hari, baik dari cara memompa, kecepatan berjalan, maupun arah ayunan semprotan. Hal ini penting agar hasil kalibrasi sesuai dengan ondisi aplikasi sebenarnya di lapangan. Penyemprotan dilakukan sampai seluruh petak tersemprot merata.
4.
Ukur Sisa Air
Setelah seluruh petak contoh selesai
disemprot, ukur sisa air dalam tangki. Selisih
antara volume awal dan sisa air menunjukkan jumlah air yang digunakan untuk
menyemprot luas lahan 100 meter persegi, dapat ditulis dengan rumus:
Air Terpakai = Volume Awal – Sisa Air
Contoh perhitungan:
-
Volume Awal : 16 Liter
-
Sisa Air : 12 Liter
- Air yang terpakai untuk petak contoh = 16 – 12 = 4 Liter
5.
Menghitung Kebutuhan Air per Hektar
Jika untuk luas lahan 100 meter persegi menghabiskan 4 Liter
air, maka unutk menghitung kebutuhan 1 hektar (10.000 meter persegi) rumusnya
adalah:
Volume Air Per Hektar = (10.000 / Luas Petak Contoh) x
Air yang Terpakai
Contoh perhitungan:
Volume Air per Hektar = (10.000 / 100) x 4 = 100 x 4 = 400
Liter
Jadi, kebutuhan air semprot adalah 400 Liter per hektar. Jika tangki sprayer yang digunakan berkapasitas 16 Liter, maka petani membutuhkan sekitar 25 tangki untuk menyemprot 1 hektar lahan (400 Liter / 16 Liter = 25 tangki).
6.
Menghitung Dosis Pestisida
Setelah diketahui kebutuhan air per hektar, petani dapat menentukan
jumlah pestisida yang harus dicampurkan ke dalam setiap tangki. Jika tangki sprayer
berkapasitas 16 Liter, maka pertangki rumusnya:
Dosis Pestisida
per Tangki = Dosis Pestisida per Hektar / Jumlah Tangki yang Dibutuhkan
Contoh perhitungan:
-
Anjuran pestisida : 2 Liter (2.000
ml) pestisida per 1 hektar
-
Kebutuhan air = 400 Liter per
hektar (setara 25 tangki)
Dosis pestisida per tangki = 2.000 ml / 25 tangki = 80 ml per tangki
Dari hasil perhitungan di atas, berarti setiap tangki ukuran 16 Liter dicampur dengan 80 ml pestisida.
Melalui kalibrasi sprayer, petani dapat memperoleh banyak manfaat, diantaranya menghemat penggunaan pestisida, menekan biaya produksi, meningkatkan efektivitas pengendalia OPT, serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu, kalibrasi juga membantu memastikan bahwa pestisida diaplikasikan secara tepat dan merata sehingga hasil pengendalian menjadi lebih optimal. Kalibrasi alat semprot (sprayer) sebaiknya dilakukan secara berkala, terutama ketika mengganti nozzle, mengganti operator atau menggunakan jenis sprayer yang berbeda.
Sumber Pustaka:
Budi, G. P. 2009. Beberapa Aspek
Perbaikan Penyemprotan Pestisida untuk Mengendalikan Organisme Pengganggu
Tanaman. Agritech, 11(2), 69–80
Brown, A., & Jones, B. 2020.
Calibration procedures for pesticide application equipment. Journal of
Agricultural Engineering, 15(3), 123-135.
Djojosumarto, P. 2004. Teknik Aplikasi
Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Yuwana, N. A. 2014. Desain dan
Kontruksi Grid Patternator untuk Pengujian Kinerja Penyemprotan Sprayer.
Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.