Oleh: Shierly P. V. Nainggolan, SP. / POPT
Ahli Pertama
pada Balai Penyuluhan Pertanian Kec. Banjar
Biopori adalah lubang
silindris vertikal yang dibuat ke dalam tanah, dimana terbentuk akibat dari berbagai
aktifitas organisme di dalamnya, seperti perakaran tanaman, cacing, semut dan
mikroorganisme membentuk jaringan saluran kecil yang membuat air lebih mudah
meresap. Lubang Resapan Biopori (LRB) memiliki diameter sekitar 10–30 cm dan
kedalaman hingga 100 cm. Meskipun tampak sederhana, lubang ini menyimpan
kekuatan besar untuk meningkatkan daya serap air hujan, menyuburkan tanah dan
mengolah sampah organik langsung dari halaman.
Pembuatan lubang biopori
merupakan teknologi yang ramah lingkungan, sederhana cara pembuatannya, murah
dan tidak memerlukan lahan yang luas. Lubang Resapan Biopori (LBR) dapat
mengatasi ketersediaan air tanah dengan memanfaatkan sampah organik melalui
lubang kecil dalam tanah. Manfaat Lubang Resapan Biopori (LBR) untuk menampung
air hujan dengan meresapkannya kembali tanah, memperbesar daya tampung tanah
terhadap air hujan sehingga mengurangi genangan air yang selanjutnya mengurangi
limpahan air hujan turun ke sungai.
Cara biopori dalam
menyuburkan tanah dan tanaman yaitu : 1) menghasilkan pupuk alami (kompos) yang
dihasilkan dari sampah organik sehingga tanaman di sekitar biopori akan
mendapatkan nutrisi dari hasil dekomposisi sampah organik, 2) meningkatkan
aktivitas mikroorganisme tanah yang bekerja untuk menjaga kesuburan tanah
secara alami, 3) meningkatkan porositas tanah menjadi lebih gembur dan tidak
padat, sehingga akar tanaman dapat tumbuh lebih baik dan lebih dalam, 4) memperbaiki
drainase alami agar air yang menggenang dapat meresap lebih cepat ke dalam
tanah untuk mengurangi risiko banjir dan menjaga kelembaban tanah secara alami,
5) mencegah erosi karena tanah lebih stabil dan tidak mudah terkikis.
Salah satu kekuatan
utama biopori adalah kemampuannya mengubah masalah menjadi solusi dan menyulap
limbah jadi berkah. Dengan biopori, sampah organik seperti sisa sayur, kulit
buah, atau daun kering tak lagi berakhir di tempat sampah, melainkan berubah
menjadi pupuk alami yang menyuburkan tanaman di sekitar rumah. Sampah organik
yang biasanya dibuang ke tempat sampah kini bisa langsung diolah di halaman
rumah menjadi pupuk alami. Alih-alih membuang sisa sayur, kulit buah, atau daun
kering, kita cukup memasukkannya ke dalam lubang biopori. Cukup masukkan limbah
dapur ke dalam lubang biopori dan biarkan alam bekerja. Dalam hitungan minggu,
sampah tersebut terurai menjadi humus yaitu pupuk kaya nutrisi tanpa biaya
tambahan, tanpa bahan kimia, tanpa boros air dan praktis. Hal ini merupakan
langkah konkrit menuju pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih bijak
sekaligus mendukung pertanian perkotaan (urban farming).
Adapun langkah-langkah pembuatan luang biopori yaitu :
1. Dipilih
lokasi yang strategis dimana seperti area yang sering tergenang air.
2. Digali
tanah dengan kedalaman hingga 100 cm dan diameter 10–30 cm (disesuaikan dengan
kondisi tanah).
3. Dilapisi
dengan pipa PVC yang sudah disesuaikan dengan ukuran lubang biopori.
4. Diisi
lubang dengan sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, daun kering,
atau limbah dapur lainnya.
5. Ditutup
bagian atas lubang dengan penutup sederhana (bisa pakai tutup paralon
berlubang) agar tidak menjadi sarang nyamuk.
6. Ditambahkan
sampah organik secara berkala (setiap 2–3 hari) dan biarkan mikroorganisme
bekerja.
Daftar Pustaka
Gusti
Aji, T., Sutopo dan Norry E. P. 2020. Lubang Resapan Biopori untuk Meningkatkan
Kapasitas Penyimpanan Air di Daerah Perakaran Jeruk Keprok (Citrus
reticulata). Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika. J.
Hort., 30(1):41-46. Diakses pada laman http://repository.pertanian.go.id/items/23684676-3e68-45d3-9f54-49e39b288bb8.
Hendrawan,
D. I., M. F. Fachrul, A. Rinanti, S. Andajani, M. R. Raivaldi, T. J. Jiwanti, I.
Rahmandani, E. Gracia. 2021. Penerapan Lubang Resapan Biopori sebagai Upaya Konservasi
Air Tanah. Community Empowerment 6(10):1872-1879. Diakses pada laman
https:// www.researchgate.net/publication/357481350_The_application_of
_biopore_infiltration_holes_as_groundwater_conservation_efforts
Mulyandari,
R. S. H., Sunusi, M. A., Purwaningsih, Y., Hermami, A., Setiawan, A., Razak,
A., Pratiwi, R. C. dan Steviano, O. 2022. Adaptasi dan Mitigasi Dampak
Perubahan Iklim Subsektor Hortikultura. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran
Teknologi Pertanian. Pertanian Press. Bogor. 49 hlmn. Diakses pada laman
https://epublikasi.pertanian.go.id/pertanianpress/catalog/view/49/46/363